![]() |
| prinsip keindahan |
Mindset dan kebiasaan umumnya orang kita di dalam membangun rumah seringkali tidak mempunyai perencanaan yang matang.
Pertama soal desain. Bagaimana dan seperti apa rumah impian itu ingin dibangun, ruangan apa saja dan berapa banyaknya yang diinginkan. Finalnya kalau sudah jadi. Sedangkan kalau proses pembangunannya itu bisa bertahap disesuaikan dengan kondisi budget yang ada. Jadi bukan asal bangun lalu direnovasi lagi, atau dibongkar pasang lagi begitulah terus. Sehingga yang terjadi hanya membuang-buang material dan menghabiskan uang percuma.
Kedua soal budget. Berapa besar anggaran untuk membangun rumah akan dipersiapkan. Tidak selalu harus sekaligus, tetapi bisa bertahap. Dengan melihat anggaran yang dialokasikan bisa disusun rencana model rumah yang bagaimana yang bisa dibangun disesuaikan dengan budget-nya. Bisa rumah tembok (permanen), atau rumah kayu, atau bisa juga rumah kombinasi dari tembok dan kayu. Atau menggunakan media bahan lainnya yg lebih murah, misalnya bilik bambu atau tripleks, seng, dll.
Ketiga soal orientasi. Umumnya orang kita di dalam membangun rumah selalu berorientasi horizontal menghabiskan lahan yang ada. Padahal berapa pun luas bangunan rumah yang diinginkan bisa diwujudkan di lahan yang sekalipun terbatas luasnya jika orientasinya vertikal. Sehingga tanpa perlu harus menghabiskan lahan yang ada. Misalnya, punya lahan 100 m2 dan ingin membangun rumah seluas 100 m2 juga, tidak perlu membangun rumah dengan orientasi horizontal menghabiskan lahan yang ada. Tetapi bangunlah rumah bertingkat secara vertikal. Misalnya, seluas 50 m2 perlantainya. Jadi bangunan rumahnya bertingkat 2 lantai, sehingga masih punya lahan kosong yang tersisa seluas 50 m2.
Keempat soal keamanan, keindahan dan kesehatan. Sehingga rumah bisa menjadi tempat hunian yang nyaman, ini berkaitan dengan desain dan model rumah impian, tentang pengaturan tata letak ruangan. Seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja/baca, ruang shalat, kamar tidur utama, kamar tidur anak, kamar tidur tamu, dapur, gudang, tempat cuci, kamar mandi/toilet, garasi, pintu, jendela, dan lubang sirkulasi udara, dll.
Rumah yang indah dan nyaman untuk ditempati itu relatif dan fleksibel. Tidak selalu harus mahal dan mewah. Tidak selalu harus besar dan mentereng. Asal punya jiwa seni dan kreatif segala sesuatunya bisa diatur dan disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.
Seperti sekat dinding antar ruangan di dalam rumah tidak usah permanen yang memakan anggaran lebih besar. Tetapi bisa menggunakan sekat pemisah ruangan yang movable dan lebih murah, misalnya dari media tripleks. Dan ini ada kelebihannya, karena tata letak ruangan bisa digeser dan dipindah-pindah (manasuka sesuai keingianan), sehingga tidak membosankan. Selain tentu saja, jika ada acara bisa dilepas (digeser), sehingga akan menghasilkan ruangan yang lebih luas lagi untuk melakukan acara.
Selain itu bisa dipilih pula bahan material yang lebih murah dan cocok dengan selera. Tetapi diatur sedemikian rupa sehingga memiliki unsur estetika yang baik. Juga pagar rumah tidak perlu pagar besi atau tembok yang mahal. Tetapi bisa menggunakan pagar hidup yang diatur dengan baik. Demikian pun perabotan rumah, tidak perlu banyak dan mahal harganya. Cukup sedikit dan murah, tetapi punya nilai seni sehingga tidak terkesan murahan.
-
Prinsip keindahan seperti simfoni lagu, tercipta oleh adanya keselarasan dari perpaduan nada-nada yang berbeda, tetapi menghasilkan irama lagu yang merdu dan enak di dengar. Atau seperti pelangi yg merupakan perpaduan aneka warna yang selaras dan indah dipandang mata.
Begitupun keindahan seni bangunan (arsitektur) dan seni interior bangunan ataupun seni memilih peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang baik akan terlihat indah penuh pesona bagi orang-orang yang berjiwa seni.
Di tangan orang yang punya jiwa seni dan kreatif, hal-hal yang sepele dan sederhana pun bisa disulap menjadi benda yang bernilai seni tinggi. Bahkan sekalipun dari limbah yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sampah yang tidak berguna apalagi berharga.
-
Dan setiap orang pada dasarnya punya jiwa seninya sendiri-sendiri,
yang membedakan hanyalah caranya mengasah, melatih dan menempa diri.
Seperti sebuah objek yang dipandang oleh orang lain sebagai hal yang biasa, tetapi di tangan seorang pelukis bisa menghasilkan lukisan objek yang indah dipandang mata.
Atau deretan tangga nada yang dipandang oleh orang lain sebagai hal yang biasa, tetapi di tangan seorang musikus bisa menghasilkan lagu yang merdu dan enak di dengar.
Begitupun deretan huruf-huruf yang terangkai menjadi kata dipandang oleh orang lain sebagai hal biasa, tetapi di tangan seorang sastrawan bisa menghasilkan syair yang indah dibaca.
Begitulah keindahan yang tercipta oleh tangan terampil manusia yang punya jiwa seni dan kreatif. Bukan selalu dari hal-hal yang luar biasa, tetapi juga dari hal-hal yang biasa dan dipandang biasa oleh umumnya orang.
Allahu a'lam.
*****

No comments:
Post a Comment