Memang hak setiap orang untuk menikmati kesenangan hidup sesuai dengan kemampuannya. Namun terkadang hati merasa pilu juga, di saat mayoritas rakyat kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan. tidak punya tempat tinggal, untuk makan sehari-hari juga sungguh sulit, ditambah lagi ada banyak yang terlilit utang piutang. Bagi sebagian orang yang kaya, menikmati kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia ini mungkin merupakan hal yang sangat mudah, bukan lagi cuma sekedar impian dan angan-angan kosong belaka. Rumah mewah, mobil mewah, makan dan minum yang serba enak dan mewah sudah merupakan menu sehari-hari. Apapun yang diinginkannya dengan mudah bisa terpenuhi. Barang-barang yang fantastis dan serba wah, yang mungkin bagi sebagian orang yang miskin cuma ada di dalam dongeng atau tidak pernah membayangkan sebelumnya, tetapi bagi orang yang kaya itu semua bisa dinikmati dengan mudah. Tidak begitu sulit, selagi ada uang, apapun bisa diperbuatnya. Bukan lagi puluhan juta, ratusan juta, milyaran lagi, tetapi sudah trilyunan bahkan ratusan trilyun kekayaan yang dimilikinya.
Tetapi bagi sebagian orang yang lainnya, punya uang milyaran dan trilyunan mungkin cuma merupakan impian saja. Jangankan segitu banyaknya, jutaan bahkan ratusan ribu, atau malah puluhan ribu rupiah juga sudah sulit untuk memilikinya. Sudah susah payah mencarinya. Tempo-tempo sama sekali tidak punya sepeser pun untuk biaya hidup sehari-hari. Bekerja keras banting tulang dari pagi sampai malam, seringkali cuma menghasilkan uang puluhan ribu rupiah saja.
Garis hidup dan nasib sepertinya mempermainkan mereka para fakir miskin. Tempo-tempo mengeluh bahwa Tuhan tidak adil dan pilih kasih. Kemiskinan memang rentan dengan perilaku yang nyeleneh, disaat ambang batas kesabaran dan beratnya beban hidup sudah tidak bisa dipikul lagi, mereka pun tidak sedikit yang terjerumus kepada jurang kehidupan yang kelam, baik perilaku kejahatan, kemusyrikan, tipu menipu, pencurian, penodongan, dan lain sebagainya. Lingkungan pun membentuk mereka berperilaku keras, dan masa bodoh.
Wallahu a'lam.
*****
No comments:
Post a Comment