![]() |
| bahagia seperti bayangan |
Kebahagiaan itu seperti bayangan. Selalu dibayangkan di setiap waktu dan dimanapun berada. Selalu berandai-andai begini atau begitu.
Padahal kebahagiaan itu selalu membayangi, selalu setia membayangi kapanpun dan kemanapun kaki melangkah pergi, seperti bayangan tubuh.
-
Ketika si A yang punya motor membayangkan bahagia jika punya mobil seperti si C.
Ketika si B yang tidak punya motor membayangkan bahagia jika punya motor seperti si A.
Ketika si C yang punya mobil membayangkan bahagia jika punya istri secantik istrinya si B.
Jadi bahagia itu apa?
Betulkah bahagianya si A itu kalau punya mobil?
Betulkah bahagianya si B itu kalau punya motor?
Betulkah bahagianya si C itu kalau punya istri cantik?
-
"Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban,
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan)."
(QS. Ar-Rahman: 13).
Realitas kehidupan seringkali menyangkalnya. Karena ketika keinginan mereka itu tercapai, tentulah mereka akan membayangkan lagi bahagia jika begini atau begitu. Begitulah seterusnya, takkan ada habisnya mereka mengejar bahagia seumur hidupnya. Karena yang mereka kejar bukan bahagia, tetapi selalu bayangan bahagia. Bukan kebahagiaan hakiki yang selalu setia membayangi mereka di setiap detiknya, yang sudah ada pada diri mereka sendiri. Sayangnya mereka tidak bisa menikmatinya karena mereka tidak menyadarinya dan tidak pandai bersyukur.
Begitulah diri kita selalu melihat hal yang wah di atas kepala orang lain, di luar sana. Karena pandangan mata kita selalu melihat keluar, ke arah sana, ke arah orang lain.
Sedikit sekali dari diri kita yang suka melihat ke atas kepala diri kita sendiri, di dalam sini. Dan memandangnya dengan mata hati kita untuk melihat ke dalam, ke arah sini, ke arah diri kita sendiri.
Itulah sebabnya diri kita selalu bergulat dengan aneka macam pertanyaan yang tidak berujung pangkal. Selalu mencari-cari hal-hal yang belum dimiliki. Menguras tenaga dan pikiran dari waktu ke waktu dengan tiada henti. Karena selalu membandingkan kehidupan diri kita dengan kehidupannya orang lain. Selalu menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain dan belum dimiliki oleh diri kita. Sehingga kita lupa terhadap apa yang sudah kita miliki, lupa untuk menikmatinya dan lupa untuk mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan-Nya kepada diri kita.
-
"Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban,
(maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan)."
(QS. Ar-Rahman: 13).
Lalu bagaimanakah diri kita akan bisa menikmati makan singkong rebus, jika yang kita bayangkan selalu makan roti keju?
Bisakah singkong rebus berubah rasa menjadi serasa roti keju?
Ah, itulah hanya bayangan khayal, khayalan tingkat dewa, imajinasi yang hanya sekedar ilusi.
-
Meraih dan menggapai bahagia seperti meraih dan menggapai bayangan tubuh kita sendiri. Ia sangat dekat dengan diri kita. Karena selalu membayangi diri kita,
tetapi tidak bisa kita raih, tidak bisa kita gapai dan tidak bisa kita pegang atau tidak bisa kita genggam. Tetapi kita bisa melihat bayangan tubuh diri kita sendiri, sangat jelas sekali bagi kita yang mau melihatnya dan bagi kita yang bisa memperhatikannya. Karena ia selalu setia mengikuti diri kita kemana pun kita melangkahkan kaki.
Ya, seperti itulah bahagia!
Bahagia tidak bisa dikejar. Memangnya kita mau mengejar kemana bayangan tubuh diri kita sendiri? Toh, ia selalu ada di dekat diri kita. Ia bukan sesuatu yang bisa dikejar kemana-mana dan yang berada dimana-mana.
Bahagia tidak bisa dicari. Memangnya kita mau mencari kemana bayangan tubuh diri kita sendiri? Toh, ia selalu ada di dekat diri kita. Ia bukan sesuatu yang bisa dicari kemana-mana dan yang berada dimana-mana.
Bahagia tidak bisa diraih. Memangnya apa yang mau kita raih dari bayangan tubuh diri kita sendiri? Toh, ia bukan sesuatu benda yang bisa disentuh ataupun dipegang.
Bahagia tidak bisa digapai. Memangnya apa yang mau kita gapai dari bayangan tubuh diri kita sendiri? Toh, ia bukan finish line yang bisa digapai. Bukan pula jarak suatu tempat yang bisa ditempuh.
-
Ia seperti angin yang tidak bisa disentuh dan tidak bisa dipegang,
tetapi ia ada dan bisa dirasakan adanya. Ia bisa dinikmati hembusannya yang semilir menyegarkan badan dan menyejukkan jiwa.
Ya, begitulah bahagia!
Bahagia bukan untuk dikejar dan dicari, karena ia bukan sesuatu apapun yang bisa dikejar dan dicari.
Bahagia bukan untuk diraih dan digapai, karena ia bukan sesuatu apapun yang bisa diraih dan digapai.
Bahagia seperti angin, yang tidak bisa disentuh dan tidak bisa dipegang, tetapi ia ada dan bisa dirasakan adanya. Ia bisa dinikmati kebahagiaannya, yang bisa menyenangkan dan menggembirakan hati, yang bisa menenangkan dan menentramkan jiwa, yang bisa membuat hidup dirasakan indah selalu,
Maka dari itu,
-
"Mari kita tersenyum bersama,
tertawa riang gembira,
agar hidup dirasa indah selalu ..."
Allahu a'lam.
*****

No comments:
Post a Comment