Thursday, 9 April 2020

Bersyukurnya Anak Tiri

bersyukurnya anak tiri

Manusia sebagai seorang pribadi di dalam kehidupan sosial ibaratnya pohon bambu di dalam rumpun bambu. Tidak semuanya lurus dan tidak semuanya bengkok.

Begitupun dengan pribadi seseorang, watak dan karakternya, juga sikap dan perilakunya. Akan selalu ada yang baik dan tidak baik, akan selalu ada yang penuh cinta dan kasih sayang dengan setulus hati. Ada pula yang dzalim penuh rasa benci dan ketidaksukaan yang menggerogoti hati.

Sudah dari jaman dahulu kala, di sepanjang peradaban manusia eksis. Kehidupan rumah tangga selalu penuh lika-likunya, penuh riak dan gelombang, yang terkadang tenang menghanyutkan, terkadang pula membadai dan menghancurkan.

Pernikahan dan perceraian ibarat mengayuh perahu. Adakalanya perahu itu selamat sampai ke dermaga pulau tujuan. Adakalanya pula harus karam dan berganti perahu lagi.

Saat perceraian terjadi dan kemudian menikah lagi, akan ada sebutan ibu tiri (sambung), ayah tiri (sambung) dan anak tiri (sambung). Dan ada banyak ceritanya yang dialami dan dirasakan oleh sebagian orang, baik yang manis semanis madu ataupun yang pahit sepahit empedu, yang menyenangkan penuh kegembiraan ataupun yang menyedihkan penuh kegetiran.

Yang jelas selalu ada image negatif terhadap predikat tiri. Umumnya selalu dipandang jahat dan kejam bagaikan Mak Lampir. Padahal tidak sedikit dari mereka pun yang baik dan berhati tulus menerimanya bagaikan ayah dan ibu ataupun saudara kandung. Tetapi memang sepertinya sudah begitulah adanya manusia, yang selalu lebih awas melihat keburukan daripada kebaikan. Dimana 9 kebaikan akan tenggelam oleh 1 keburukan, kalah populer dan kalah heboh.

Untuk mewakili rasa bahagia mereka, anak-anak tiri (sambung) yang beruntung mendapatkan ayah dan ibu tiri yang baik. Yang mencintai dan menyayangi mereka dengan setulus hati, bagaikan anak kandung sendiri. Maka saya menggubah lirik lagu berikut:

    betapa syukur hidupku
    meski jauh dari ibu
    tapi kini dapat ganti seorang ibu
    ibu sambung

    tetaplah sama rasanya
    ibu sambung yang tercinta
    menyayang sepenuh jiwa
    bagaikan ibu kandungku

    ibu sambung juga cinta seperti ibu kandungku
    penuh kasih lagi mesra serasa ibu kandungku
    tiap hari ku disayang dan dimanja dengan cinta

    bagai anak kandung sendiri selalu mengasihi diriku

    aduhai ibu sambungku
    terima kasihku padamu wahai ibu sambungku
    salam baktiku untukmu

    (gubahan ratapan anak tiri)

Tentu, rasa bahagia mereka adalah juga rasa bahagia kita. Andaikata diri kita sendiri pun, atau anak-anak kita, atau saudara dan keponakan kita pun berada di posisi mereka, sudah tentu akan merasakan sebagaimana yang mereka rasakan.

Allahu a'lam.

*****

No comments:

Post a Comment