Silang kata dan berbeda pendapat dalam suatu pembicaraan ataupun diskusi adalah hal yang jamak, wajar, lumrah dan manusiawi, justru itulah seninya diskusi. Sehingga sebuah diskusi akan terlihat lebih indah, lebih hidup, lebih dinamis dan penuh warna, tidak monoton dan tidak pula menjemukan, apalagi bikin ngantuk, karena diskusi adalah perang pikiran.
Tetapi bukan perang emosi, apalagi perang fisik, jadi tidak perlu baper, apalagi mudah tersinggung. Jika terjadi silang kata dalam suatu pembicaraan ataupun diskusi yang mengolah pikiran. Kepala dan hati harus tetap dingin ketika terjadi olah pikiran dan beradu argumentasi, kapan pun dan dimanapun. Seperti pemain bola yang berebut bola selama berlangsungnya pertandingan di lapangan hijau. Tetapi ketika sudah usai mereka tetap berpelukan. Di lapangan hijau kedua tim bisa disebut lawan bertanding atau musuh pertandingan. Tetapi di luar lapangan mereka tetap berkawan, bersahabat dan bersaudara.
Begitulah seharusnya diskusi. Seperti juga olah raga, harus ada jiwa sportivitas. Harus bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Harus bisa membedakan saatnya diskusi dan bertanding dengan saatnya di luar arena sebagai teman dan sahabat atau saudara bagaimana pun hasilnya pertandingan atau diskusi itu. Menang atau kalah adalah hal yang sudah biasa. Tidak perlu harus merasa kecewa apalagi sakit hati.
Tidak perlu emosional dan makan hati ketika terjadi kontra pendapat, tetaplah beradu argumentasi dengan baik. Bukan untuk saling memaksakan pendapat masing-masing. Bukan pula untuk mencari kemenangan. Apalagi untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk mencari kebenaran.
Diskusi bukanlah debat kusir. Maka tetaplah harus saling menghargai dan menghormati pendapat masing-masing. Perbedaan yang ada bukan untuk menimbulkan konflik personal ataupun kelompok. Tetapi untuk mencari solusi agar perbedaan yang ada bisa dijembatani jika memungkinkan. Tetapi jika tidak mungkin dan menemui kebuntuan pun kembali kepada prinsip perbedaan itu sebagai rahmat dari Rabb semesta alam raya. Juga kembali kepada prinsip sebagaimana yang diajarkan dalam Kitabullah,
-
"Lanaa a’maalunaa wa lakum a’maalukum.
(Bagiku amalanku dan bagimu amalanmu)."
(QS. 2:139).
Dengan tafsir lain,
-
Bagiku pendapatku dan bagimu pendapatmu,
bagiku pemikiranku dan bagimu pemikiranmu,
bagiku pilihanku dan bagimu pilihanmu,
bagiku keyakinanku dan bagimu keyakinanmu, dll.
Pendek kata, siapa yang menabur benih, dialah yang akan memanen hasilnya, setiap orang pada akhirnya hanya akan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya sendiri-sendiri.
Aku tidak akan menanggung dosa juga menerima pahala yang kau perbuat, dan kau pun tidak akan menanggung dosa juga tidak akan menerima pahala yang kuperbuat.
Bertukar pikiran, berdialog dan berdiskusi adalah salah satu cara belajar dan menempa pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang dipahaminya.
Dalam bertukar pikiran tentu tidak akan luput dari adanya perdebatan untuk saling beradu argumentasi, dan untuk saling mempertahankan pendapatnya dan pendiriannya masing-masing. Tetapi itulah sebagian warna dari dinamika diskusi yang diibaratkan sebuah pelangi.
Perdebatan adalah hal yang wajar, lumrah dan manusiawi yang timbul dari adanya perbedaan pendapat dan pemahaman masing-masing. Sejauh itu bukan debat kusir yang hanya mencari kemenangan dan selalu emosional. Tetapi hanya perdebatan berupa adu argumentasi untuk mencari kebenaran dan tetap intelek. Tetap berpikiran jernih dengan hati dan kepala yang juga tetap dingin. Tidak pakai acara emosional. Tidak untuk saling menjatuhkan. Tidak untuk saling mencela. Dan tidak juga untuk saling menghujat.
Maka dari itulah, jangan berdebat dengan orang yang fasik. Jangan berdebat dengan orang yang bahlul. Jangan berdebat dengan orang yang sukanya ingin menang sendiri. Jangan berdebat dengan orang yang mudah tersinggung atau mudah emosional. Jangan berdebat dengan orang yang suka mencela dan menghujat. Karena semua itu tidak akan mendatangkan manfaat, tidak berguna, sia-sia saja dan hanya membuang-buang waktu, pikiran dan energi percuma.
Allahu a'lam,,,
*****
No comments:
Post a Comment