Kita suka mudah membuat dan memberi label sesuatu dengan sebutan islam, tetapi prakteknya seringkali inkonsistensi. Yang terlihat pada akhirnya kata-kata islam hanyalah sebagai kulit pembungkus saja, bukan menjadi ruh yang menjiwai keseluruhannya.
Penjelasan dan penegasan seperti itu terkadang karena rasa kurang percaya diri. Sehingga harus ditegaskan tentang ke-islam-annya agar semua orang tahu. Padahal tanpa penegasan seperti itupun, jika nilai-nilai islam benar-benar sudah menjadi ruhnya yang menjiwai segala aktivitasnya, dan sudah membumi juga mengakar-kokoh di dalam jiwanya, maka siapapun akan bisa melihat perbedaannya.
Tetapi realitas kehidupan yang ada tidak seperti itu. Terkadang aktivitas sebagian orang muslim dan orang non muslim tidak ada bedanya. Misalnya, ketika berada di suatu tempat yang sama, lalu berkumandang adzan yang memanggil untuk menghadap-Nya, respon keduanya sama saja asyik dengan aktivitasnya. Sepintas lalu orang tidak akan bisa membedakannya kalau salah seorangnya adalah seorang muslim.
Mungkin hal itu terlihatnya sepele, sebagaimana sepelenya hal-hal lainnya. Padahal sesungguhnya hal itu sangat fundamental. Sebagai sikap dan karakter yang melandasi kepribadiannya. Yang menjadi identitas pembeda antara seorang muslim sejati dengan orang non muslim.
Tetapi sekarang identitas orang muslim itu sudah semakin luntur dan memudar tergerus oleh dominasi kebudayaan barat yang non muslim. Termasuk juga kebudayaan daerahnya sendiri, yang hanya bisa dilihat misalnya saat upacara pernikahan yang masih dipertahankan oleh sebagian orang, baik tradisi pakaiannya ataupun tata cara pelaksanaannya yang sarat dengan nuansa kebudayaan tradisional.
Wallahu a'lam.
*****
No comments:
Post a Comment