Hidup kadang-kadang tidak mempunyai kesempatan untuk melawan otoritas yang disahkan kesewenangannya.
Ia pun menjadi gagu di hadapan otoritas ilmu-ilmu ilmiah, filsafat dan agama, juga dihadapan otoritas para pemimpin agama.
Kisah di bawah ini mengilustrasikan nafas doktrin yang paling murni.
“Pada suatu saat Musa AS mendengar seorang penggembala berdo’a, “Ya Tuhanku, tunjukanlah padaku di mana kediaman-Mu. Sehingga aku bias menjadi pelayan-Mu. Aku akan menyikat bersih-bersih alas kaki-Mu. Dan menyisir rambut-Mu. Menjahit baju-baju-Mu. Juga mengambilkan susu untuk-Mu.”
Ketika Musa AS mendengar do’a penggembala itu, yang dianggapnya sebagai do’a yang tidak beradab, ia mencela si penggembala dan mengatakan kepadanya, “Bodoh sekali engkau. Meskipun ayahmu seorang muslim, sekarang engkau seorang yang kafir karena do’amu yang kurang ajar itu. Tuhan itu Ruh. Dia tidak membutuhkan bantuan remeh seperti yang kau tawarkan kepada-nya.”
Penggembala itu merasa dipermalukan oleh celaan Musa AS. Ia merobek-robek bajunya dan berlari secepat kilat ke padang pasir. Lalu, terdengar suara dari langit, “Wahai Musa, apa hakmu mengusir hamba-Ku? Ketahuilah, tugasmu adalah mendekatkan hamba-hamba-Ku dengan Aku. Bukan menjauhkan mereka dari-Ku.”
(Kenneth Cragg)
Sesaat, seperti kebiasaan yang berlaku lazim turun-temurun
Tentang diri aku menyatakan:
Diri sejati belum pernah terlihat
Sungguhpun telah kudengar namanya.
Saat aku terkepung dalam diri yang terkungkung
Kurasakan diri tak berarti
Sampai saat kutinggalkan diri jauh-jauh di belakang
Sungguh ia mempunyai arti.
(Jalaluddin Rumi)
Kuikat erat-erat kekikiran,
kubuka ikatan kedermawanan.
Kuikat erat-erat kemarahan,
kubuka ikatan kesabaran.
Kuikat erat-erat ketamakan,
kubuka ikatan kesalehan.
Kuikat erat-erat
ketidakpedulian, kubuka ikatan rasa takut pada Tuhan.
Kuikat erat-erat hawa nafsu,
kubuka ikatan rasa cinta pada Tuhan.
Kuikat erat-erat kefakiran,
kubuka ikatan kecukupan.
Kuikat erat-erat hasutan setan,
kubuka ikatan panggilan Tuhan.
(Bektashis)
Tangga kedai minum akan menjadi pemilik rumah penginapanmu.
Sebab nafas cinta tidak akan berhembus kecuali kepada mereka yang memohon
Dan berdo’a diambang pintu yang berdebu.
(Hafiz)
Kita tak lain hanyalah mainan dari
Kesemestaan Tuhan:
Segala Kebesaranm, segala
Kekayaan adalah Dia.
Kita para pengemis hina tanpa uang meski hanya sepeser.
Apakah engkau menduga
Aku berlaku sebab kehendakku?
Atau saat waktu berlalu,
Aku berada di tangan keinginanku?
Seperti sebuah pena aku tergelatak
Di hadapan yang memakaiku untuk menulis:
Atau seperti bola,
Aku tawanan yang dipenjara oleh palu kayuku.
(tulis seorang sufi dari Herat)
Pujianku meniadakan-Mu,
Wahai Dzat Yang Maha Besar,
Sebab pujian adalah makhluk,
Dan ia menjadi sebuah dosa karena
Mengingkari persatuan-Mu
denganku.
(Jalaluddin rumi)
*****
Sungguh ia mempunyai arti.
Sebab pujian adalah makhluk,

No comments:
Post a Comment