Wednesday, 15 April 2020

Jangan Hanya Dirasakan Saja

masalah besar

Seringkali hal besar dan ruwet serta njelimet bermula dari hal remeh dan sepele. Dari kebiasaan yang menganggap remeh dan dianggap sepele. Dari keengganan untuk sedikit bersusah payah dan sedikit melelahkan diri. Juga dari sikap hidup yang tidak disiplin dan semau gue.

Seperti misalnya persoalan sampah. Berawal dari kebiasaan nyampah dan membuangnya secara sembarangan. Ketika cuma seorang yang nyampah dan membuangnya sembarangan mungkin akan terlihat remeh dan sepele. Tetapi jika ratusan dan ribuan orang, apalagi jutaan orang melakukan hal yang sama setiap harinya. Bisakah dibayangkan berapa banyaknya sampah yang akan berserakan setiap harinya?
Dan kalau dibiarkan terus-menerus akan berakumulasi dari waktu ke waktu, dari hari ke minggu dan dari bulan ke tahun. Bisakah terbayangkan jika onggokan sampah itu akan membukit dan menggunung?
Dan pada akhirnya akan mengotori berbagai pojok tempat, dari dalam rumah ke halaman rumah, dari pinggiran jalan ke pinggiran kebun, sampai ke sungai-sungai yang berujung di lautan semuanya akan tercemar.

Sampah organik dan non organik yang berserakan dan bertumpuk-tumpuk seiring dengan berjalannya waktu akan membusuk dan menimbulkan polusi (udara, air dan tanah). Sampah organik sebenarnya bisa didaur ulang secara alami melalui proses pelapukan, namun dalam prosesnya memerlukan waktu yang cukup lama. Dan ada beberapa jenis sampah, terutama sampah rumahan akan yang akan menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung. Sedangkan sampah non organik yang tidak bisa dihancurkan oleh proses pelapukan yang alamiah, walaupun sebagiannya masih bisa juga didaur ulang, lama kelamaan akan pula merusak tanah dan mengganggu produktivitas lahan untuk diolah. Sampah yang berserakan dan bertumpuk-tumpuk dimana-mana telah menciptakan pemandangan di berbagai tempat yang tak sedap dipandang mata. Selain merusak lingkungan sekitar, juga menimbulkan banyak kuman-kuman penyakit yang bisa mengganggu kesehatan manusia yang berada di sekitarnya, juga terlihat jorok dan menjijikkan.

Andaikata setiap pribadi dan kelompok masyarakat/institusi bisa hidup disiplin. Bisa sama-sama mengelola sampah yang dihasilkannya (diproduksinya). Punya kepedulian yang sama untuk menjaga kebersihan lingkungan hidup di sekitarnya. Tentu akan terciptalah kehidupan yang bersih dan resik di semua tempatnya secara keseluruhannya.

Mungkinkah?
Oh, apakah mungkin itu?
Ya memang, saat ini masih sebatas harapan dan sekedar impian. Tetapi semoga saja bukan hanya sekedar ilusi juga.

Meskipun bukan hal yang mustahil, tetapi memang merupakan suatu hal yang sangat-sangat sulit untuk bisa diwujudkan. Karena jangankan untuk satu wilayah, apalagi negara juga global. Toh, terkadang untuk satu keluarga (rumah tangga) pun akan selalu saja ada anggota keluarga yang tidak perduli dan masa bodoh.

Memang hal yang tidak mudah untuk menyatukan visi dan misi. Hal yang tidak mudah untuk kooperatif dan bekerjasama. Hal yang tidak mudah untuk menyatukan langkah dalam satu irama. Hal yang tidak mudah untuk menyinkronkan isi kepala. Sesulit memanjat ke atas langit.

Hal yang sederhana untuk mengelola sampah adalah dengan cara memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik bisa diproses secara alamiah dijadikan kompos. Sampah non organik bisa disortir dan dipilah jenisnya, seperti kertas, kardus, plastik, botol, besi, dll. untuk didaur ulang atau dijual atau disumbangkan ke para pemulung atau ke tempat-tempat penampungan rongsokan. Tentu saja bagi kebanyakan orang umumnya akan merasa, ah ribet, capek, membuang waktu, dll.

Di halaman rumah (sebaiknya di belakang/pinggir) diusahakan mempunyai 2 lobang yang dalam seperti sumur untuk mengelola sampah dan diberi tutup. Satu untuk tempat membuang sampah organik dan satu lagi untuk membuang sampah non organik yang tidak bisa didaur ulang atau tidak laku dijual atau tidak bisa disumbangkan. Satu lubang seperti sumur itu bisa menampung sampah rumahan sampai beberapa tahun ke depan. Kalau sudah penuh bisa menggali lagi lubang baru di dekatnya. Dan lubang sampah organik yang lama akan menghasilkan kompos setelah sampahnya lapuk. Selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk media budidaya tanaman, baik sebagai media tanam ataupun sebagai pupuk.

Sedangkan bekas lubang sampah non organik akan menjadi lahan mati. Inipun setelah beberapa tahun (untuk sampah rumahan yg tidak bisa didaur ulang). Setelah beberapa buah dengan diameter yang cukup selanjutnya bisa dibangun ruangan rumah di atasnya. Sehingga tetap tidak mubazir dan tidak jadi lahan tidur, alias masih bisa dimanfaatkan. Tentu saja bagi kebanyakan orang umumnya akan merasa, ah ribet, capek, membuang-buang waktu saja, dll.

Atau, iya kalau punya rumah yang ada halamannya dan tersisa lahan kosong. Kalau yang tidak punya sisa lahan kan sama saja dengan bullshit dan nonsens! Itupun sebenarnya hanyalah soal mindset saja. Ya, mindset kebanyakan orang kita di dalam membangun rumah selalu berorientasi horizontal menghabiskan lahan yang ada.

Allahu a'lam.

*****


No comments:

Post a Comment