![]() |
| hidup harus punya pendirian |
Dalam hidup ini, ketika kita harus selalu mengikuti kebiasaan umum yang membudaya. Ada banyak hari yang harus diperingati setiap tahunnya. Yang harus menyita waktu dan kesibukan diri kita juga menguras budget.
Yang terkadang di dalam memperingati dan merayakannya tidak sedikit yang penuh hura-hura dengan berpesta pora. Atau yang dipaksakan dan memaksakan diri untuk memperingati dan merayakannya sekalipun sedang kejepit.
Dan disaat tengah berhura-hura dengan berpesta pora, disaat sedang menikmati kegembiraan dan kesenangan bersama kawan dan saudara seiring dengan suara tawa yang lepas. Di tempat lainnya selalu ada orang yang malang tengah berduka. Selalu ada orang yang sedang menahan lapar karena kefakiran dan kemiskinan yang melilit. Selalu ada orang yang tengah bersedih hati merawat keluarganya yang sedang sakit. Selalu ada orang yang bermuram durja karena libatan utang yang jatuh tempo sedang uang belum punya. Selalu ada orang yang mengeluh pedih sambil menjerit pilu karena pulang pergi kesana kemari mencari pekerjaan/nafkah untuk keluarganya belum dapat, sementara keluarganya di rumah sedang menantikannya dengan penuh harap, dll.
Dan ketika segala sesuatunya sudah usai dan berakhir. Benarkah ia sudah bisa menikmati kebahagiaan hidupnya? Betulkah semuanya telah memberinya kepuasan jiwa yang didambakannya?
Toh tidak sedikit yang pada akhirnya harus merasakan lagi kesunyian yang sepi mencekam. Ditinggalkan lagi berlalu oleh kawan dan saudara seiring yang sudah memberinya kegembiraan dan kesenangan sesaat. Ya sesaat saja, karena setelahnya seringkali sudah dilupakan lagi. Masing-masing kembali lagi kepada kesibukannya sendiri-sendiri. Berakhir sudah gelak tawa dan canda ria yang penuh riang gembira itu.
Ketimpangan seperti ini mungkin sudah menjadi pemandangan yang umum dan biasa dari waktu ke waktu dan dari jaman ke jaman yang berputar silih berganti. Sehingga sudah membuat hati kita mengeras sekeras batu. Dan tidak sampai menyentuh nurani. Rasa simpati dan empati juga kepekaan sosial sudah terkikis atau malah sudah menguap tergilas oleh rasa egois yang mementingkan diri sendiri. Atau seperti kata Iwan Fals dalam sebuah lirik lagunya,
-
"Persetan orang susah,
yang penting aku senang,
aku menang,"
Ketika kita merayakan sesuatu, seringkali berlindung dibalik kata-kata,
-
"Itung-itung beramal!"
"tung-itung sedekah," dll.
Betulkah? Mungkin bisa iya, mungkin juga bisa tidak. Karena beramal dan sedekah itu adalah kebajikan yang ditentukan oleh niatnya yang utama, bukan sekedar pelaksanaannya. Beramal dan sedekah juga ada keumumannya meskipun bukan hal yang mutlak. Misalnya, ditujukan kepada kaum fakir miskin atau anak yatim piatu, kepada orang yang tengah kesusahan atau musafir yang kehabisan bekal, kepada orang yang tidak atau kurang mampu meskipun tidak terhitung fakir miskin, kepada orang yang sedang terlilit utang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (bukan untuk kredit rumah, kendaraan, HP, dll), kepada para lansia atau para janda, kepada mualaf, buat mesjid/mushala/panti asuhan, dll.
Jadi bukan sekedar kita mentraktir mereka atau mereka mentraktir kita. Bukan pula sekedar urunan gotongroyong untuk kepentingan lagi bersama (dari kita, oleh kita untuk kita).
Begitulah kira-kira!
Allahu a'lam,
*****

No comments:
Post a Comment